Saturday, November 10, 2012

Masyarakat Satu Dimensi (Pemikiran Herbert Marcuse)

Pengantar 

Sebuah pepatah klasik : si vis pacem para bellum – bila menginginkan damai, persiapkanlah perang – cocok dipakai untuk menggambarkan keadaan masyarakat kapitalis industri maju dewasa ini. Secara kasat mata, masyarakat kapitalis kontemporer memang berbeda dalam tingkat kemakmuran yang pantas dibanggakan. Standar hidup individu sangat tinggi, kekayaan pribadi dan negara makin meningkat, pelayanan kesehatan cukup merata dan dinikmati dengan baik oleh sebagian besar penduduk. Segala kebutuhan dasar mudah diperoleh dan harga pun terjangkau dikantong penduduk, sehingga kelaparan atau mati kelaparan menjadi bencana nasional. Lalu, jam kerja kaum buruh dibatasi dan dilindungi oleh hukum; penghasilan mereka melebihi standar minimun kebutuhan hidup, sehingga bisa berlibur bersama keluarga bahkan pelesir ke luar negeri. Jadi, kehidupan warga negara maju kapitalis di era teknologi memang lebih baik.
Tatkala ditelisik secara lebih teliti, dibalik gemerlap kemakmuran material dan kenyamanan hidup tadi, terdapat persoalan yang besar juga berbahaya. Tanpa sadar, atau memang sengaja dibuat tidak sadar, warga masyarakat kapitalis sedang mempraktikkan pepatah klasik diatas. Kemakmuran yang dinikmati harus dibayar dengan pemiskinan dan perbudakan warga, kelompok dan bangsa lain. Keamanan dan kenyamanan harus dilunasi dengan pengekangan dan penindasan. Pelestarian hidup individu dan warga negara diperoleh melalui pembasmian terhadap individu dan warga lain yang tidak selairan, berbeda suku dan warna kulit. Masyarakat industri maju kapitalis sedang membangun kemajuan dan peradaban dengan perbudakan kejam dan berkelanjutan.
            Dengan perkembangan teknologi mutakhir, pola penjajahan, penindasan dan perbudakan mengalami perubahan radikal, yakni dengan tidak serta menghindari ancaman dan tindak kekerasan. Penggunaan teror sudah dianggap kuno, mubazir, dan kontraproduktif karena menimbulkan kepanikan dan ketakutan sesaat dan secara bersamaan menimbulkan antipati, kebencian dan perlawanan. Karena alasan tersebut, rezim dan penguasa memilih pola penjajahan dan perbudakan secara lebih halus, rasional, dingin, dan tanpa wajah, namun tetap mujarab dan mematikan, melalui cara :

1.           Administrasi Total
Administrasi total merupakan strategi pengaturan dan pengelolaan yang bertujuan  mengharmonisasikan pemusatan dan penyatuan kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, dan budaya ke dalam satu tangan. Sarana yang dimanfaatkan adalah dengan menciptakan “musuh bersama” nasional guna memaksa semua warga agar memerlukan yang tidak diperlukan dan mengorbankan yang harus dilindungi dan dilestarikan[1].
Alasan klasik yang dikemukakan ialah menyeimbangkan hak dan kewajiban, menjamin kestabilan dan keamanan, memberikan kepastian hukum dan memastikan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Dibalik gagasan yang begitu luhur, tujuan sejati administrasi total ialah mempertahankan kelanggengan kekuasaan, penindasan dan perbudakan demi keuntungan dan keunggulan abadi pihak penguasa atas semua lawan dan saingan.
Administrasi total mengejawantah dalam bentuk manajemen ilmiah (lalu dikembangkan menjadi manajemen konflik)[2]. Manajemen ilmiah digagas oleh F.W Taylor dengan mengambil inspirasi dari kesatuan ilmu pasti dan industri raksasa[3]. Manajemen ilmiah merupakan strategi pengaturan dan pengelolaan hubungan kelas pekerja dan kelas majikan dengan memakai aturan hukum yang telah dirumuskan dan diinstalisasikan kedalam mesin pintar. Dengan begitu, bila terjadi perselisihan antara dua belah pihak, tidak diperlukan lagi pengacara maupun pertemuan guna memeriksa akar persoalan dan mendapatkan kesepakatan. Jadi, kedua belah pihak (pekerja dan majikan) cukup memasukkan argumentasi kedalam mesin tersebut, lalu mesin akan menganalisis masing-masing argumen dan membuat keputusan objektif megenai siapa yang benar dan yang salah[4]. (catatan: sayang sekali F.W Taylor tidak mengatakan siapa yang telah membuat dan menginstalasikan rumusan hukum demikian kedalam mesin).
Dari sudut pandang ekonomi dan teknologi, segala perdebatan dan pembicaraan merupakan hal yang kurang berguna, membuang waktu, tenaga, pikiran dan dana. Yang penting disini adalah : bukan bagaimana individu mengembangkan kemampuan berfikir, mempertanyakan hak dan harga diri mereka, melainkan berkontribusi bagi sistem dan menghasilkan sesuatu yang berguna secara sosial. “jangan kamu tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negara

2.          Bahasa Fungsional
Medium utama administrasi total adalah bahasa, mengingat subjek utama yang dihadapi, diatur, dikelola dan dikendalikan adalah : manusia. Siapa menguasai bahasa, dia menguasai hidup. Penguasa kapitalis menyadari kedudukan sentral bahasa dalam seluruh wacana peradaban. Karena itu, hal utama yang perlu digarap dalam upaya penaklukan total dan tuntas adalah pembentukan wacana berfikir, cara berkomunikasi, dan berwicara. Muatan baru yang diberikan oleh rezim kapitalis dalam mengubah wacana pra-teknologi dilakukan dengan menciptakan bahasa sendiri : bahasa fungsional[5].
Bahasa fungsional merupakan pola wicara yang lebih mementingkan fungsi predikat daripada subjek lewat penyamaan predikat secara langsung dan cermat dengan pokok kalimat. Contoh (dari bahasa Inggris) : “Georgia’s high-handed, low browed govenor” (Gubernur Georgia yang congkak dan beralis rendah) serta “bull-shouldered missileman von Braun” (Ahli Misil von Braun yang berpundak bagaikan sapi)[6]. Tanda petik dan tanda hubung dari dua kalimat diatas menunjukan identifikasi langsung individu dengan ciri fisik dan karakternya, disini terdapat upaya penyatuan kosakata yang saling bertentangan secara paksa dimana keseluruhan subjek terungkap dalam semua predikat.
Berbeda dengan struktur frasa dalam bahasa klasik, subjek adalah substansi dan memaknai konsep, sesuatu yang universal. Sedangkan predikat menunjukan penjelasan, penjabaran, perwujudan dan perincian dari sebuah subjek menurut keadaan, fungsi dan kualitas tertentu. Dalam bahasa fungsional, pola berpikir klasik telah dipangkas dan bahasa kehilangan fungsi mediasi. Pemangkasan dan penghilangan itu terjadi lewat penyamarataan, penyerapan, dan penyatupaduan situasi, fungsi jabatan, kualitas, kata keterangan, dan berbagai faktor kehidupan yang saling bertentangan secara lancang.
Pada tahap awal, gaya bahasa fungsional mendominasi dunia perdagangan, dunia yang menganut prinsip: waktu adalah uang. Penggunaan bahasa fungsional dalam dunia ekonomi dinyatakan dalam bahasa iklan. Penyampaian informasi serta pembatinan nilai dan citra dalam iklan dilakukan dalam ruang terbatas dan momen yang amat singkat. Untuk itu, konstruksi kata dalam iklan harus ringkas, langsung, kongkret, tepat sasaran.
Dalam perkembangan, bahasa fungsional merambah kedunia politik. Dunia politik merupakan teritori yang amat rawan dengan konflik kepentingan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan. Untuk mencegah dan mengelola konflik, kaum penguasa harus menemukan cara yang rasional, manusiawi, efektif, ramah, mampu menyerap dan menyatukan semua pihak dengan segenap kepentingannya, yakni kepentingan status quo. Bahsa fungsional memenuhi semua persyaratan ini berkat kemampuannya mengasimilasi semua persyaratan dengan persyaratan sendiri, menawarkan prospek guna mengkombinasikan toleransi sebesar mungkin dengan kesatuan seluas mungkin[7].
Bahasa fungsional merupakan pola wicara yang antikritik dan antidialetika[8], absolut dan adikara, otoriter dan totaliter. Yang mana keabsolutan dan keadikaraan merupakan bagian esensial dari eksistensi dan aktivitas penguasa. Dalam konteks kekuasaan, bahasa fungsional merupakan bahasa kekuasaan, pola wicara yang mengkomunikasikan keputusan, peraturan, perintah dan larangan, tolak ukur dan pedoman bagi semesta konsep, sistem nilai dan realitas yang berbeda dan dicurigai[9]. Dengan begitu, bahasa fungsional berfungsi sebagai instrumen koordinasi dan subordinasi[10], menunjukkan diri sebagai bahasa satu dimensi[11], diktator bahasa sekaligus bahasa diktator. 

3.         Penghapusan Sejarah
Pembentukan bahasa fungsional dalam pembentukkan semesta wacana masyarakat mesti dilihat dalam hubungannya dengan sejarah peradaban. Sejarah peradaban bukan sekedar kumpulan fakta dan rangkaian peristiwa dimasa lalu, dimana makna dan fungsinya terbatas pada sekedar kenangan, ingatan dan kerinduan sehingga kita tidak lagi mengulang kesalahan. Sejarah peradaban merupakan aktivitas dialogis berkelanjutan antara nalar dengan semesta dalam rangka penemuan dan perwujudan seluruh diri subjek dan memahami kedudukan-nya diantara semua yang ada.
Dalam hidup menyejarah, nalar manusia mengambil dua sikap yang berbeda. Disatu pihak, ada kontinuitas gerak dialektis nalar dalam rangka mengenal, mengerti, memahami, dan mengolah fakta, data dan peristiwa. Dan dipihak lain, dis-kontinuitas sejauh nalar berada dalam kesatuan dengan badan. Dalam kesatuan ini, nalar manusia terikat dalam ruang dan waktu sehingga aktivitasnya tunduk pada hukum sebelum dan sesudah, disana dan disini, kini dan nanti. Jarak konstan realitas dua dimensional mempertahankan sifat antagonistis satu sama lain. Kedua realitas ini bergerak dan berkembang dalam kontradiksi dan menghasilkan konsep yang senantiasa berciri kritis, progresif, dan revolusioner.
Berangkat dari pemaknaan bahasa fungsional sebagai bahasa tunggal dalam masyarakat kapitalis, pernyataan Marcuse bahwa pemaksaan makna tunggal bahasa dalam semesta wacana merupakan keputusan dan tindakan politis dan bukan sekedar persoalan dunia akademis[12], mendapat pembenarannya. Promosi dan aplikasi bahasa fungsional yang bersifat antioposisi dan selalu ‘alergi’ dengan kekaburan dan perbedaan makna, merupakan strategi penguasa untuk menguasai kesadaran dan menutup ruang perbedaan.
Secara sosial, bahasa fungsional memuat kandungan ideologis sehingga menjadi bahasa antihistoris yang radikal. Radikalitas seperti ini cenderung menafikkan relasi masa lampau dan masa kini[13]. Dari sudut kekuasaan, membiarkan masa lampau dan masa kini tetap terjalin dapat diibaratkan dengan memelihara anak macan.
kesenangan merupakan cara disosiasi dari berbagai fakta yang tersaji, suatu langgam “mediasi” yang menghancurkan kekuasaan aneka fakta tersaji yang terdapat dimana-mana. Memori mengingatkan teror dan harapan yang telah berlalu[14].
Teror memunculkan perasaan terintimidasi, cemas, galau, takut, dan trauma berkepanjangan. Sedangkan harapan memberikan perasaan lega, yakin, aman dan nyaman dalam meniti masa depan. Meski berbeda, teror dan harapan dapat memunculkan refleksi, opsi, konsep, kemungkinan, peluang, keberanian, dan aksi. Keduanya menjadi jembatan bagi individu untuk melampaui kenyataan. Menjembatani berarti memberi ruang dan peluang bagi individu untuk belajar: belajar dari apa saja yang telah dilakukan dimasa lalu (baik-buruk maupun untung rugi). Karena itu, belajar dari sejarah menumbuhkembangkan kesadaran kritis mengenai ciri menjadi manusia atau proyeksi diri menuju status yang lebih baik dan sempurna. Kesadaran kritis merupakan kesadaran historis saat menatap dan menilai realitas sosial[15], sehingga masuk akal bila kesadaran kritis menggalaukan kekuasaan yang ada.
Ketakutan penguasa mengalir dari akibat yang ditimbulkan kesadaran historis kala kesadaran kritis berbicara mengenai bahasa pengetahuan. Karena itu, kesadaran historis dan kritis harus dicegah, pertalian antara masa lalu dan masa kini wajib diputus oleh bahasa fungsional. Jadi, rezim kapitalis merupakan penghancur sejarah. 

Kebutuhan Palsu
Generasi kontemporer semakin menyadari ke-aku-an dan kepemikikan. Mereka ingin disanjung, dipuja-puji, dimanja, dan disayangi. Harga diri mereka diangkat setinggi mungkin, dan kebutuhan pun harus selalu terpenuhi. Mereka memerlukan pelayanan bagaikan pangeran dan putri ayu masa lalu; mereka ingin hidup enak dan gampang.
Didepan mentalitas yang berpusat pada ke-aku-an, strategi penguasaan dan penindasan dengan kekerasan dan kebrutalan fisik pasti segera memantik perlawanan dan pemberontakan. Untuk itu, penguasa harus pandai memperlakukan segenap warga: membelai dan membuat mereka tertidur, menjaga, dan melayani ketika mereka terjaga. Dalam alam kebebasan, penguasa kontemporer mesti berlaku sebagai pelayan tunggal bagi semua warga. Dari sinilah, neo-imperialisme dan neo-kolonialisme kontemporer bekerja lewat kebutuhan palsu yang sengaja diciptakan dengan memanipulasi keinginan massa untuk dilayani bak ratu dan raja.
Kebutuhan Palsu merupakan suatu keperluan yang dibebankan oleh aneka kepentingan sosial tertentu kepada semua individu dengan maksud menindas dan menggeroggoti mereka[16]. Sekarang ini terpampang jelas propaganda sistematis dan kontinu untuk semua kebutuhan palsu yang dijejalkan. Propaganda kebutuhan palsu dilakukan lewat aneka macam promosi, pameran dan iklan mengenai merek dagang, tempat wisata, pusat perbelanjaan, mode, apartemen, lokasi perumahan, ponsel, komputer, kendaraan bermotor, peralatan rumah tangga, hingga beragam jenis kursus. Dari sini, perlu ditanyakan apakah konsumen membeli berbagai macam produk karena perlu atau lebih didukung karena gengsi, status sosial, persaingan dengan teman, tetangga, dan lainnya?
Namun beberapa dari mereka berkilah (mereka yang berpikir bahwa distingsi mengenai kebutuhan palsu dan kebutuhan hakiki sengaja digembar-gemborkan karena sikap benci dan antipati terhadap ideologi kapitalis), “Bukankah kebutuhan semacam ini merupakan sarana memuaskan semua insting yang sekian lama dikekang dan ditindas?” Bagi Marcuse, memuaskan insting berbeda dari sikap memperbudak diri lewat insting dibawah kekuasaan lewat pihak lain yang memberikan kepuasan. Pemuasan sejati adalah pemenuhan yang mendukung perkembangan diri secara bebas[17]. Pemuasan secara membabi buta lebih tepat dikatakan sebagai pelampiasan dari pada pemenuhan secara wajar dan pantas. Tentang realitas kebutuhan palsu dan kebutuhan hakiki, sikap terpenting yang harus dimiliki adalah selalu bertanya tentang apa, mengapa, dan bagaimana aku sampai pada keputusan untuk membeli sebuah produk. 

Imperium Citra
Dewasa ini, image (citra) menjelma menjadi matra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan. Para pemimpin negara, kandidat yang bersaing guna memperebutkan posisi sebagai presiden atau perdana menteri, serta berbagai jabatan dibawahnya menaruh perhatian besar terhadap citra. Lebih parah lagi, dominasi citra merasuk pula ke wilayah praksis kekuasaan dan menjadi bahan pertimbangan utama dalam keputusan politik dan kebijakan pemerintah yang tergambar dalam istilah populis dan tidak populis. Dalam makna awali, istilah populis mengacu pada seri kebijakan dan keputusan politik yang mengedepankan hak dan kepentingan rakyat. Namun, bagi penguasa, istilah populis diselewengkan menjadi populer, terkenal, dan merakyat tanpa memperhitungkan apakah hak dan kepentingan rakyat sungguh menjadi ukuran, pedoman, dan tujuan nyata dari kebijakan dan keputusan politik. Bagi penguasa, rakyat adalah massa tanpa nama, objek dan bukan subjek kekuasaan dan pembangunan. Dengan demikian, sikap yang diambil penguasa berciri dua dimensi: di satu pihak menjamin kerja sama dan toleransi minimum dengan kalangan oposisi dan dipihak lain menciptakan citra baik dan murah hati dikalangan rakyat jelata.
Berpijak pada dominasi citra dalam semesta aktivitas moderen-kontemporer, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa manusia hidup dalam imperium citra. Citra adalah sang kaisar, ukuran mutlak, pedoman tertinggi dan nilai supermum dalam relasi, interaksi, komunikasi, dan aksi entah pada lingkup pribadi, keluarga, komunitas maupun nasional, regional, dan global. Generasi moderen kontemporer lebih mementingkan bungkusan daripada isi, kesan daripada subtansi, tampilan daripada intisari, peran daripada jatidiri, sehingga jangan heran bila dalam tatanan hidup bersama semua diskursus berhenti pada sensasi.

MANUSIA KAPITALIS SATU DIMENSI


Di era modern-kontemporer, teknologi beralih status dan menjelma sebagai prinsip dan roh peradaban yang menjiwai dan menghidupi manusia dan peradabannya menurut bentuk yang sudah di rancang dan direkayasa sehingga seluruh realitas tatanannya kini diubah menjadi realitas dan peradaban teknologi satu-dimensi.

Dari Logika Dialektis ke Logika Dominasi
v Logika Dialektis Platon
· Pikiran dialektis platon merupakan aktifitas berfikir melalui permenungan, pengelompokkan, pembedaan, dan pelampauan yang berusaha menemukan esensi, kebenaran, prinsip, dan sebab. Keadaan ini memberikan karakter pemikiran filsafat yang transenden, universal, dan abstrak yang merupakan eksistensi pikiran yang sangat hakiki dan otentik.
·  Dalam logika dialektis Platonian, titik tekan bukan pada kesesuaian melainkan pada keberbedaan gagasan dengan realitas, sebab keputusan tentang realitas berasal dari pandangan yang mengekspresikan subversinya[18].
·   Unsur subversi menandakan gerak dialektis yang terarah pada upaya untuk keluar dari normalitas, rutinitas, dan status quo.
·   Jadi, gerakan nalar dalam mencari definisi dan kebenaran sejati merupakan aksi melawan dan sekaligus melampaui kemapanan berfikir dan kebekuan institusional.
v Logika Analitis
·  Dialektika berfilsafat dan logika berfikir Platon lalu diimbangi oleh filsafat dan logika Aristoteles
·  Pengetahuan dan pemahaman mengenai universalitas dan sebab, menurut Aristoteles, merupakan pengetahuan dan pengertian yang paling menyeluruh dan merangkum hal ihwal yang partikular.
·   Pembedaan realitas secara demikian menjadi dasar untuk menjelaskan makna ‘ada’ dan membentuk logika: sebagai disiplin ilmu berfikir dan tolak ukur dalam menilai dan memutuskan.
·   Dari sini, lahirlah logika formal yang memutuskan benar dan keliru[19], sahih dan tidak sahih.
v Empiris-Positivisme Logis
·   Pola berfikir teknologis telah kehilangan dimensi penalaran dan kekritisan, baik terhadap realitas secara umum, maupun kekeliruan dan manipulasi yang dilakukan oleh kekuatan sentifugal yang sedang berkuasa.
·  Pemanasan global, pembabatan hutan, permasalahan sampah (entah yang berasal dari limbah rumah tangga maupun dunia industri dan nuklir), polusi, pengurasan berskala raksasa terhadap sumber alam, misalnya, merupakan bukti kekeliruan dan manipulasi oleh kaum kapitalis yang berkuasa.
·    Bahkan tendensi yang cukup mencengangkan adalah: terdapat sejumlah pihak, termasuk kalangan agamawan, yang malah menerima dan mentoleransi kesalahan dan manipulasi bila dianggap dapat memberikan keuntungan besar.
·  Cara berfikir nalar teknologis adalah cara berfikir yang memiskinkan[20]. Dari sudut ilmiah, ilmu pengetahuan memandang alam hanya sebagai objek yang mesti ditundukkan dan dikuasai. Alam telah kehilangan semua kualitasnya, kecuali kualitas sebagai materi yang bisa dihitung dan diprediksi.
v Filsafat Analitis
·    Filsafat analitis merupakan aliran pemikiran yang memusatkan diri pada studi tentang bahasa.
·   Dalam kajian tentang bahasa, kalangan intelektual filsafat analisis menemukan fakta yang sangat mengganggu: dunia bahasa sarat dengan kekeliruan, kekaburan, kemenduaan, dan berbagai persoalan sejenis[21].
·  Bertolak dari permasalahan yang menyelimuti dunia bahasa, dalam filsafat analitis muncul kecenderungan yang bermaksud merestorasi bahasa, sehingga tepat guna dalam diskursus ilmiah.
·      Restorasi bahasa: pembersihan dunia filsafat dan bahasa dari kekacauan, kekeliruan, kemenduaan, pengugkapan dan gambaran yang subjektif, mitologis warisan bahasa metafisik, puitis, dan bahasa harian. Sehingga menjadi bahasa yang lugas, tuntas, jelas, utuh dan menyeluruh.
·  Penyimpangan yang dilakukan oleh kapitalis: melalui bahasa iklan untuk ‘promosi produk,’ ‘propaganda politik tentang kebenaran dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat,’ ‘pembangunan nasional,’ ‘ekonomi kerakyatan,’ ‘harga diri bangsa.’ Pola wicara pariwara juga menggunakan bahasa puitis, bahasa harian[22] dan metafisik. “Sihir, guna-guna dan upaya mencari kegembiraan yang luar biasa.”
v Pemaduan Oposisi
·    Dalam masyarakat industri kapitalis, telah berlangsung proses pemusatan dan penyatuan semua kekuatan dalam masyarakat. Dalam bidang ekonomi, sentralisasi dan integrasi kekuatan ekonomi nasional, regional dan global menampakkan diri dalam merger sehingga terbentuk korporasi raksasa. Alasan utama merger (bagi pengamat ekonomi dan pemilik perusahaan), yakni meningkatkan kinerja dan daya saing dalam iklim kompetisi yang keras. Namun, secara hakiki, atensi utama merger adalah melakukan dan mempertahankan monopoli terhadap semua sumber ekonomi, dominasi terhadap pasar dan keunggulan serta keuntungan.
· Pada ranah politik, proses pemusatan dan penyatuan kekuasaan terjadi melalui kebijakan bipartisan. Kekuatan sosio-politik didominasi lobi dan kompromi. Pembicaraan dan perdebatan yang serius, tajam, kritis, menyeluruh dan tuntas selalu dihindari dengan berbagai alasan, dan kalaupun terjadi, silang pendapat dikalangan politisi merupakan bagian dari retorika politik. Ars politica menjadi ars rhetorica, politik identik dengan konspirasi, alianasi, koalisi, bagi kekuasaan dan rezeki.
apabila partai-partai itu sudah setuju bekerja di dalam kerangka sistem yang sudah mapan, persetujuan itu bukan muncul karena alasan-alasan taktis semata dan sebagai strategi jangka pendek, melainkan karena basis-basis sosial partai-partai itu telah dilemahkan dan tujuan-tujuannya sudah diubah dengan perubahan sistem kapitalisme.” Ujar Marcuse[23].
·   Nilai budaya adihulung kini menjadi komoditi yang tunduk pada hukum pasar. Marcuse meringkas dengan padat proses tata ulang isi budaya adihulung bahwa “musik jiwa merupakan juga musik keahlian berjualan. Yang diperhitungkan bukan lagi nilai kebenaran, melainkan nilai tukar.[24]” Dengan memindahkan nilai budaya adihulung dari tatanan ideal ke tatanan operasional, proses materialisasi idealitas ditegaskan. Kapitalis sedang mewartakan materialisme kebudayaan dan kebudayaan materialistik.
Teater dan film kehilangan fungsi pendidikan dan pengetahuan; dunia lukisan dipangkas dari ungkapan yang bersifat kritis, protes dan subversif. Makna seni sebagai proyeksi dan kontemplasi dialihkan menjadi ekspresi prestasi dan objek komersialisasi. Budaya adihulung yang klasik diganti dengan budaya pop dan hip-hop.
·  Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa semua bungkam di depan pemusatan dan penyatuan kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, dan kebudayaan? Alasan utama dari kebungkaman itu terletak pada penerimaan dan pengertian massa bahwa hidup mereka menyenangkan, lebih baik, lebih enak, lebih terjamin, meskipun ada pembatasan terhadap aktivitas tertentu. Pembatasan tersebut dianggap sebagai hal yang normal dan wajar serta sebagai ‘harga’ yang harus dibayar untuk kesenangan dan kemakmuran hidup yang dinikmati.

Kesimpulan


Emansipasi dan revolusi merupakan dua jalan untuk memberikan kembali umat manusia secercah harapan akan kebahagiaan dan kebebasan yang telah hilang, sehingga semua dapat hidup menurut keperluan tanpa gangguan dan kecemasan. Untuk itu, individu harus meninggalkan sikap nrimo dan masa bodoh serta menunggu “takdir alamiah” berupa kematian kapitalisme akibat pertentangan internal dan berbagai faktor penyokongnya. Kehancuran kapitalisme hanya mungkin terjadi kalau ada persiapan yang matang, perlawanan sistematis dan keunggulan material serta etis moral kaum komunis.
Pemikiran Hegel, Marx, Heidegger, dan Freud dapat diibaratkan sebagai suara dan kacamata yang membuat Marcuse sanggup mendengar, melihat, dan memahami realitas hidup secara lebih baik. Situasi dan kondisi individu yang serba kekurangan, tertindas, terperas, terasing dari diri sendiri, sesama, dan buah tangannya oleh penguasa kapitalis, membuat Marcuse harus berbuat sesuatu. Gagasannya mengenai masyarakat dan manusia satu dimensi dalam masyarakat industri maju yang ditata dan dikelola secara unilateral menurut hukum kapitalis dan prinsip operasional teknologis dengan beragam dampak, merupakan buah pergulatan Marcuse dengan para pemikir terdahulu dan realitas aktual hidupnya.


Saran

Sebagai karya nalar dalam ruang dan waktu, pemikiran filosofis Marcuse memuat pula keterbatasan dan kekurangan. Namun, sebagai manusia bijak, kita selalu dituntut untuk melampaui segala kekurangan dan keterbatasan demikian guna menemukan makna dan niat baik permenungan Marcuse. Sekarang merupakan giliran kita dituntut untuk menulis sejarah degan belajar dari masa lalu demi negeri tercinta dan dunia yang lebih baik.






DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Saeng, Valentinus CP. 2012. Herbert Marcuse Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kajian :
Marcuse, Herbert. 1964. One Dimensional Man, Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society. Boston: Beacon.
Marcuse, Herbert. 1958. One-Dimensional Man, Soviet Marxism. A Critical Analysis, New York: Coloumbia Univ. Press.


[1] Herbert Marcuse, One Dimensional Man. Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society, Boston: Beacon, 1964.
[2] Ibid., 70.
[3] Id., “Einige gesellschaftliche Folgen moderner Technologie”, dalam Id., Schriften, Bd. III, Frankfurt am Main: Suhrkamp, 1979, 296.
[4] Ibid., 101, 198
[5] Id., One Dimensional Man, 85.
[6] Ibid., 89, 92, 93: Gubernur yang dimaksud adalah Mr. Talmadge.
[7]  Ibid., 90.
[8]  Ibid., 97.
[9]  Ibid., 102.
[10] Ibid., 97.
[11] Ibid., 101, 198.
[12]  Ibid., 98.
[13]  Ibid.,
[14]  Ibid.,
[15]  Ibid., 99
[16]  Ibid., 4-5.
[17]  Ibid., 6.
[18]  Herbert Marcuse, One Dimensional Man., 132.
[19]  Ibid., 130.
[20] Ibid., 186.
[21] Bdk. Ibid., 170-178
[22] Untuk bisa masuk dalam kelas aktual, individu harus berfikir dan bertutur dalam kerangka berpikir, kaidah dan standar  yang dirancang penguasa. Kata-kata Soeharto pernah dikultuskan oleh kalangan pejabatnya dari tingkat menteri hingga RT-RW. Soeharto selalu menggunakan kata perbandingan “daripada” dalam setiap kalimat tanpa konteks perbandingan apapun: pembangunan nasional bertujuan menyejahterakan daripada rakyat.” Dan pejabat pun mengulang kata “daripada” dalam setiap pertemuan dan wawancara.
   Serta pemakaian akhiran ‘ken’ untuk mengganti ‘kan’
[23]  Herbert Marcuse, One-Dimensional Man, 21. Mengenai perubahan kebijakan ekonomi dan politik Uni Soviet, lihat Herbert Marcuse, Soviet Marxism. A Critical Analysis, New York: Coloumbia Univ. Press, 1958.
[24]  Herbert Marcuse, One Dimensional Man, 57.

1 comment:

budayakan komentar yang berbudaya